Cerita ini dimulai ketika saya dan salah satu teman (sebut saja centong) ditugasi Eyang (Ibu Dosen kami) buat mencari tahu seluk beluk tentang geblek. Makanan yang namanya saya baru tahu ketika itu. Berhubung sedikit sekali pustaka tentang si geblek ini, akhirnya survei lapangan langsung menjadi pilihan yang harus dilakukan. Masalahnya Kulonprogo bukanlah tempat yang dekat ditengah kesibukan kuliah. Demi Eyang dan demi honor (husstt..), kami pun berangkat ke Kulonprogo pagi buta. Tanpa referensi tempat, tanpa tahu mau ke daerah mana, pokoknya bismillah. Dan singkat cerita setelah sedikit muterin Wates kami berhasil seorang penjual geblek di depan Stasiun Wates. Ibu Inem (samaran) namanya. Usianya tidak lagi muda, lebih pantas dipanggil nenek malah. Hampir tiap pagi jualan geblek dan sengek tempe benguk di depan Stasiun. Sampai sini semuanya berjalan wajar. Sampai ketika obrolan mulai masuk soal finansial, moment itu akan menjadi pelajaran berharga bagi kami berdua. J...
Beberapa minggu lalu, 21-24 November tepatnya . Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk melihat sisi lain dari Indonesia yang selama ini saya kenal. Indonesia yang hanya sebatas Pulau Jawa. 20 tahun hidup di negeri ini, bisa dihitung jari saya menginjakan kaki di tanah luar jawa. Padahal, negeri ini nggak cuma jawa kan. Huh, apa Indonesia terlalu luas ya? Sehingga menjadi nasib bagi orang seperti saya yang pengen mengenal negerinya lebih dekat menjadi hal yang teramat sulit. Oke, back to the real world . Palembang sudah di depan mata. Urusan tiket sudah beres jauh-jauh hari dan sekarang saya dihadapkan dengan realita bahwa rencana ke Palembang yang telah tersusun rapi ini bertabrakan dengan jadwal praktikum. Praktikum dengan dosen pengampu yang di cap paling horor di jurusan saya, sekaligus dosen yang menjadi DPA saya selama kuliah. Betapa beruntungnya saya…huhu Alhasil, beberapa kali saya harus rela berhadapan dan merasakan atmosfer horor yang selalu menyertai beliau....
10 Agustus 2014 Terasa cepat tiga minggu ini berlalu. Tiga minggu yang penuh dengan kerja, tawa, dan keringat. Tiga minggu yang semakin menyatukan kami. Inilah kami, saya dan tujuh orang lainnya, yang sedang mencoba belajar mengenal masyarakat, mengenal budaya, mengenal Indonesia dari sisi lain. Inilah kami, delapan penghuni Alang-alang dengan segala pembaharuan yang kami bisa lakukan untuk Alang-alang. Hmm… hidup berdepalan bersama dalam dua bulan? Cewe cowo dalam satu rumah tanpa pengawasan? Seriusan tuh? Yap, nyatanya tiga minggu telah kami lewati dan semuanya berjalan baik. Banyak banget hal bisa kami rasakan dalam tiga minggu ini. Belajar mengenal satu sama lain, tentang kebersamaan, tentang batas-batas kedewasaan. Inilah tujuh anak Alang-alang yang telah membersamai saya dalam perjalanan tiga minggu ini. · Moy, alias Emoy, alias Intan. Cewek jurusan Elins (Elektronika dan Intrumentasi) ini adalah yang...
Komentar
Posting Komentar