Cerita ini dimulai ketika saya dan salah satu teman (sebut saja centong) ditugasi Eyang (Ibu Dosen kami) buat mencari tahu seluk beluk tentang geblek. Makanan yang namanya saya baru tahu ketika itu. Berhubung sedikit sekali pustaka tentang si geblek ini, akhirnya survei lapangan langsung menjadi pilihan yang harus dilakukan. Masalahnya Kulonprogo bukanlah tempat yang dekat ditengah kesibukan kuliah. Demi Eyang dan demi honor (husstt..), kami pun berangkat ke Kulonprogo pagi buta. Tanpa referensi tempat, tanpa tahu mau ke daerah mana, pokoknya bismillah. Dan singkat cerita setelah sedikit muterin Wates kami berhasil seorang penjual geblek di depan Stasiun Wates. Ibu Inem (samaran) namanya. Usianya tidak lagi muda, lebih pantas dipanggil nenek malah. Hampir tiap pagi jualan geblek dan sengek tempe benguk di depan Stasiun. Sampai sini semuanya berjalan wajar. Sampai ketika obrolan mulai masuk soal finansial, moment itu akan menjadi pelajaran berharga bagi kami berdua. J...
10 Agustus 2014 Terasa cepat tiga minggu ini berlalu. Tiga minggu yang penuh dengan kerja, tawa, dan keringat. Tiga minggu yang semakin menyatukan kami. Inilah kami, saya dan tujuh orang lainnya, yang sedang mencoba belajar mengenal masyarakat, mengenal budaya, mengenal Indonesia dari sisi lain. Inilah kami, delapan penghuni Alang-alang dengan segala pembaharuan yang kami bisa lakukan untuk Alang-alang. Hmm… hidup berdepalan bersama dalam dua bulan? Cewe cowo dalam satu rumah tanpa pengawasan? Seriusan tuh? Yap, nyatanya tiga minggu telah kami lewati dan semuanya berjalan baik. Banyak banget hal bisa kami rasakan dalam tiga minggu ini. Belajar mengenal satu sama lain, tentang kebersamaan, tentang batas-batas kedewasaan. Inilah tujuh anak Alang-alang yang telah membersamai saya dalam perjalanan tiga minggu ini. · Moy, alias Emoy, alias Intan. Cewek jurusan Elins (Elektronika dan Intrumentasi) ini adalah yang...
Konon katanya, di suatu hari, ketika itu --- Tanpa disadari, banyak tulisan yang diawali dengan kata-kata demikian. Kata-kata yang memberikan arti waktu, jarak dan perjalanan. Tanpa disadari, banyak tulisan yang akhirnya berakhir pada karya naratif yang konstan. Kurang memberikan arti dan hanya mengalir pararel dengan berlarinya waktu. Pun semoga hidup kita tidak demikian. Semoga --- Sebagai salah satu pengagum karya-karya Tere Liye, beberapa tulisannya memang sengaja dibuat mengalir. Dibuat dari awal permulaan. Bahkan ada beberapa karya yang sama penokohannya. Namun, saya tetap belum jemu membaca tulisannya. Karena Ia selalu jeli menyisipkan makna-makna tersurat dalam setiap pilihan kata yang diambilnya. Karya Ia amat lihai membuat alur yang seperti pada umumnya mengalir, namun dengan konflik batin dan nilai-nilai yang berbeda. Pun semoga hidup kita demikian. Semoga --- Meskipun sekarang saya merindukan saat ketika hanya ada saya dan novel. Kapan saya terakhir kali menam...
Komentar
Posting Komentar