12 September 2013 Udara ruangan ini masih panas, dipenuhi ratusan manusia yang lelah. Lelah fisik karena perjuangan, namun roh-roh mereka masih menggelora bersemangat. Terlihat masing-masing mereka sibuk dengan pekerjaan sendiri. Display poster telah selesai, stand pun segera dibersihkan. Jam telah menunjukan pukul 13.00 dan pesan masuk ke inbox hpku dari pihak UGM untuk segera berkumpul karena ada agenda touring. Setelah saya jarkom ke anggota kelompok, ternyata kami satu pikiran. Mending jalan-jalan sendiri karena waktu kami yang benar-benar kepepet. Setelah mendapatkan ijin, touring Lombok pun kami lanjutkan. Kami adalah kelompok Pak De Purwo dan CMC Tongkol Jagung siap menjelajah kembali. Karena tidak ada yang hafal jalanan Lombok, kami pun kembali “menculik” salah seorang LO transport dari pihak panitia pimnas. Makasih Mbak Tyar yang sudah bersedia kami culik…haha Ketika ditanya mau kemana tujuan kami? CMC tongkol jagung langsung jawab Pantai Pink. Wew, pant...
Kayu manis telah diketahui mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, terutama perannya sebagai agen anti-inflamasi, antitumor, antikanker, dan antihipertrigliseridemia. Manfaat tersebut karena kandungan utama senyawa fitokimia dalam kayu manis, misalnya kelompok fenolat dan folatil. Senyawa-senyawa tersebut dapat diperoleh dengan proses ekstraksi pada bagian-bagian yang berbeda dari kayu manis. Dimas & Koen (2017) menjelaskan bahwa bagian-bagian kayu manis seperti kulit kayu, daun, ranting, kayu, dan buah dapat dengan mudah digunakan untuk produksi minyak folatil dengan metode distilasi dan oleoresin dengan solvent extraction . Oleoresin merupakan konsentrat ekstrak dari rempah atau herba aromatik yang diperoleh dari perlakuan pertama rempah dengan pelarut dan kemudian mengilangkan pelarut tersebut. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perbedaan spesies kayu manis berpengaruh secara signifikan terhadap kandungan flavonoid dan kapasitas antioksidannya. Umur kayu mani...
Cerita ini dimulai ketika saya dan salah satu teman (sebut saja centong) ditugasi Eyang (Ibu Dosen kami) buat mencari tahu seluk beluk tentang geblek. Makanan yang namanya saya baru tahu ketika itu. Berhubung sedikit sekali pustaka tentang si geblek ini, akhirnya survei lapangan langsung menjadi pilihan yang harus dilakukan. Masalahnya Kulonprogo bukanlah tempat yang dekat ditengah kesibukan kuliah. Demi Eyang dan demi honor (husstt..), kami pun berangkat ke Kulonprogo pagi buta. Tanpa referensi tempat, tanpa tahu mau ke daerah mana, pokoknya bismillah. Dan singkat cerita setelah sedikit muterin Wates kami berhasil seorang penjual geblek di depan Stasiun Wates. Ibu Inem (samaran) namanya. Usianya tidak lagi muda, lebih pantas dipanggil nenek malah. Hampir tiap pagi jualan geblek dan sengek tempe benguk di depan Stasiun. Sampai sini semuanya berjalan wajar. Sampai ketika obrolan mulai masuk soal finansial, moment itu akan menjadi pelajaran berharga bagi kami berdua. J...
Komentar
Posting Komentar